Wednesday, March 31, 2010
Hoping The Best Something
“Fan,gimana nih?!”
“Gimana apanya,Ya?”
“Aneh,ga ada salah satu perusahaan pun yang nelpon kita.”
Fanny hanya tertawa kecil.
“Mungkin kita belum layak kerja di sana”,jawabnya santai.
Raya mengerutkan keningnya,“Aku heran ma kamu, Fan. Kamu santai banget gitu. Tenang banget,seakan-akan ga diterima kerja lagi juga ga papa.”
“Emang aku harus ngapain? Lagian sekarang aku masih bisa kerja,jadi aku tinggal usaha lebih keras aja buat nyari pekerjaan yang lebih baik.”
“Beeeeuh,jadi penjaga perpustakaan! Fanny,gajinya ga seberapa tahu!”
Fanny tersenyum,“Ga tahu ya, aku fun-fun jja kerja di sana.” Ia menghela napas,”Prinsip aku sih, aku cuman bisa usaha dan tetep berusaha, setelah itu aku serahin semuanya ma Allah. Dan permintaan aku pun bukan minta apa yang pengen aku dapetin melainkan aku ingin Allah ngasih apapun yang terbaik buat aku. Ikhlas…. Toh, hal yang menurut kita baik,belum tentu hal itu baik menurut Allah. Sebaliknya,hal yang baik menurut Allah,pasti baik juga buat kita. Sekali pun hal itu bukan keinginan kita.”
Tuesday, March 23, 2010
Bingkai Renungan
“Dhis….”, Tanya seorang di antara mereka.
“Ya.”, jawab Dhisa.
“Aku boleh nanya ga?”
Dhisa mengiyakan sembari tersenyum.
“Kenapa ya mata kamu merah?”,Tanya Fera.
“Merah?”
“Iya. Kayak orang yang abis nangis gitu.”
“Ooo…mungkin karena aku terlalu sering begadang.”
“Gitu ya? Hehe…. Jangan terlalu sering begadang dong, Neng.”,ucapnya sembari melangkah ke arah dapur.
Kemudian malamnya, di kamar Dhisa, ketika jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 20.00 WIB, ia mengingat kembali pertanyaan Fera tadi pagi. Ia tersenyum. Kemudian ia menyetel kaset murottal Quran. Ia bergumam,
“Bagaimana aku tak menangis setiap malam bahkan setiap aku ingin menangis setiap menatap diriku di cermin. Di dunia ini saja aku selalu merepotkan orang tuaku. Aku mengecewakan mereka. Rasanya ingin cepat-cepat membuat mereka tersenyum dengan sebuah kesuksesan. Sedang waktu akan terus berjalan dan melihat betapa bertambah bodohnya aku.
Huh…. Belum lagi ketika aku merindukan Rabb-ku dan Rasul-ku. Aku ingin bertemu mereka. Aku ingin bertemu mereka di surga, di tengah pemandangan-pemandangan yang tak akan pernah terbayang oleh imajinasiku. Walaupun apakah mungkin dengan kelalaianku selama ini.
Lagi-lagi hanya kalimat inilah yang membuat aku tersenyum setelah menangis. Aku ingin berjuang dan terus berjuang. Supaya semua cita-citaku, dunia dan akhirat, itu terwujud.”
=oOo=
MASIH ADAKAH PAGI UNTUKKU
“Tha, pagi ini gimana? Badannya dah enakan sekarang?”,Tanya Emi.
“Iya, Mi.”,jawab Bitha dengan lemas.
“Mau kuliah?”
Bitha mengangguk.
“Beneran?!”
“Iya.”
“Ih Tha, ntar kalo kamu pingsan di jalan gimana?”
“Aku udah sehat kok, Mi.” jawabnya meyakinkan.
Bitha pun berangkat dengan berjalan kaki karena jarak kosannya dengan kampus tidak terlalu jauh.
Di tengah perjalanan, seseorang memanggilnya dari arah belakang.
“Tha !!!”
Bitha memalingkan wajahnya ke orang itu. Ia mengerutkan dahi.
“Udah sembuh, Tha?”
Bitha tersenyum.
“Emang sakit apa?”,tanyanya lagi.
“Flu.”, jawabnya singkat.
“Masa flu ga berangkat tiga hari sih?”
“Makanya jangan banyak tanya. Aku lagi bad mood, Ri.”
“Oooh.”
Kemudian suasana di jalan itu teramat kikuk. Hanya udara bergerak menerpa wajah keduanya.
“Tha, setiap pagi itu bisa diibaratin kayak hadiah. Coba aja kamu rasain, udara yang dapat kita hirup dengan gratis, angin yang kadang sejuk dan kadang dingin, pohon-pohon yang berkicau. Huuuh, subhanallah. Makanya, Tha, kamu harus tetp bersemangat walaupun masalah kamu banyak, berat.”
“Ngomong memang gampang, Ri.”
“Lalu, sebagai orang yang bukan kamu, aku cuman bisa nyemangatin kamu. Kalau aku bisa, aku mau gantiin kamu pas kamu ngedown.”
Bitha tersenyum. Kamudian ia mengatakan, “Apa masih ada pagi lagi buat cewek penyakitan, bodoh, males kayak aku?”
“Ih Sahabat aku kok gini sih? Dengerin ya, sekarang di kenyataannya, seorang Bitha itu hidup. Tinggal bagaimana usaha kamu mbuat hidup berarti. Selama kamu sadar kalo setiap pagi sahabat-sahabat kamu dan orang –orang yang kamu sayang tersenyum buat kamu, bahkan selalu ada Allah yang selalu cinta ma semua hambaNya, kamu bakal terus semangat karena kamu ga mau ngecewain senyum mereka dan nyia-nyiain cinta Illahi.
Dan satu lagi, bukan persoalan, besok kamu masih bisa ngelihat pagi atau ngga melainkan bagaimana kamu menjadikan setiap pagi, setiap hari, dari hidup kamu itu berarti buat kebaikan.”